Sarana Disabilitas Cemerlang

Selvy Pritawati Sudarlin: Menyalakan Cahaya dari Sunyi

Itulah awal perjalanan seorang anak desa yang menolak menyerah pada takdir.
Selvy pernah merasa asing, minder, dan enggan bersuara. Kursi roda membuatnya berbeda, tetapi bukan berarti tak berharga. Perlahan, ia menemukan cara untuk berdamai dengan diri sendiri: menulis dan melukis. Dari sana lahirlah karya-karya yang bukan sekadar catatan, melainkan pengakuan bahwa hidupnya berharga.
Buku “My Precious Life” menjadi langkah pertama, sebuah pernyataan bahwa hidupnya layak dirayakan. Lalu hadir “Mazmur Kehidupanku”, diterbitkan oleh Gramedia, berisi renungan iman selama 30 hari. Di setiap halaman, Selvy menuturkan bagaimana ia bangkit dari keputusasaan, menjadikan kata-kata sebagai doa dan harapan.
Selvy pernah merasa sendirian. Bergabung dengan komunitas pendoa, ia masih ragu untuk berbicara. Namun ketika bertemu Sarana Disabilitas Cemerlang (SDC), ia sadar bahwa dirinya tidak sendiri. Di sana, ia mulai berani menampakkan diri. Dari SDC, ia kemudian bertemu dengan CWP, sebuah ruang yang semakin mengasah keberaniannya.
Di komunitas itulah Selvy menemukan panggung baru: bukan panggung fisik, melainkan panggung hati. Ia belajar bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bersinar.
Kini, Selvy bukan lagi sekadar “anak yang dikasihani.” Ia adalah penulis, seniman, dan inspirasi. Ia mengubah rasa sakit menjadi karya, ejekan menjadi motivasi, dan keterbatasan menjadi kekuatan.
Selvy menulis bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk semua orang yang pernah merasa kecil, asing, atau tak berharga. Kata-katanya adalah pelita, mengingatkan kita bahwa setiap manusia memiliki tujuan mulia.
“Aku menulis bukan hanya untuk bercerita, tapi untuk membuktikan bahwa aku ada dan berharga.”
Kisah Selvy adalah undangan bagi kita semua untuk melihat hidup dengan cara berbeda. Bahwa di balik keterbatasan, ada ruang luas untuk bermimpi. Bahwa di balik kursi roda, ada jiwa yang bebas berlari. Dan bahwa setiap kata yang ditulis dengan hati, mampu menembus batas yang paling keras sekalipun.

Penulis: Frenky F. Pandjaitan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top