Sarana Disabilitas Cemerlang

Djoko Patnanto: Dari Julukan Menyesakkan Hati Hingga Menjadi Sumber Inspirasi

Sejak kecil, hidup Djoko Patnanto, akrab disapa Joko, sudah diwarnai dengan tantangan. Lahir di Boyolali pada 11 September 1971, ia tumbuh dengan kondisi kaki yang membuat langkahnya berbeda. Sejak TK, ia mendapat sebutan “Joko Pencor”—julukan yang menyesakkan hati dan meninggalkan luka batin. Namun, di balik itu, tersimpan keteguhan yang kelak menjadikannya sosok inspiratif.
Saat SMA, Joko diperiksakan ke rumah sakit dan diduga mengalami DMP. Kondisi fisiknya semakin melemah: berjalan sering jatuh, seolah didorong dari belakang. Seiring waktu, ia harus menggunakan tongkat, lalu kruk, hingga akhirnya kursi roda sejak 2010. Meski keterbatasan fisik semakin nyata, semangatnya tidak pernah padam.
Joko meniti karier dengan penuh dedikasi. 2007–2008: Administrasi percetakan di lembaga yang sama.
Sejak 2014, ia memilih jalur mandiri: berjualan di sekolah dan rumah, hingga kini membuat kerupuk. Kemandirian ini bukan sekadar usaha ekonomi, tetapi juga bukti bahwa keterbatasan tidak menghalangi kreativitas dan kerja keras.
Pertama kali bergabung dengan Komunitas Sarana Disabilitas Cemerlang (SDC) sebelum pandemi, Joko sempat vakum karena tidak memiliki ponsel. Namun setelah kembali, ia aktif mengikuti kegiatan. Salah satu momen berkesan adalah lomba menulis yang diadakan SDC. Tahun 2022 menjadi puncak: melalui kerja sama SDC dengan Creative Working Place (CWP), Joko bersama rekan-rekan diberi kesempatan menulis buku Mazmur Kehidupan, yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, anak perusahaan PT Gramedia.

Meski usianya tak lagi muda, Joko membuktikan bahwa belajar tidak mengenal batas. Tahun 2023, ia mendapat kesempatan menempuh pendidikan S1 Teologi di STT Rahmat Emmanuel Jakarta, dengan sponsor dari CWP. Langkah ini menunjukkan bahwa semangat untuk bertumbuh dan memperdalam iman selalu relevan, kapan pun waktunya.
Selain aktif di komunitas, Joko melayani sebagai guru Sekolah Minggu kelas dewasa pria/bapak. Pelayanan ini menjadi wujud nyata bahwa hidupnya bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga memberi.
Kisah Joko adalah kisah tentang keberanian menghadapi stigma, tentang ketekunan dalam bekerja, dan tentang semangat belajar yang tak pernah padam. Dari julukan yang menyakitkan di masa kecil hingga karya besar bersama komunitas, ia membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah bisa membatasi cahaya hati.

Penulis: Frenky F. Pandjaitan

Scroll to Top